Sabtu, 28 Desember 2013

Teknologi NFC

Pengenalan NFC



NFC (Near Field Communication) merupakan teknologi komunikasi jarak dekat berbasis RFID secara nirkabel dengan pemanfaatan induksi medan magnet. NFC hampir mirip dengan RFID namun NFC memiliki jangkauan yang lebih pendek sekitar 4 inci. Saat ini chip NFC sudah banyak ditanamkan pada smartphone premium yang dapat memanfaatkan teknologi tersebut. Untuk memanfaatkan NFC pada smartphone hanya perlu mendekatkan smartphone yang satu dengan yang lain untuk melakukan komunikasi. Pada saat melakukan komunikasi chip NFC pada smartphone tidak memerlukan catu daya tambahan, karena pada saat komunikasi timbul induksi elektromagnetik yang akan mencatu chip NFC tersebut.
 NFC memiliki frekuensi untuk transmisi data sebesar 13,56 Mhz dan kecepatan pengiriman data sebesar 106, 212, dan 424 Kbps. NFC memiliki 2 mode operasi yaitu NFC terbuka (aktif) dan NFC secure (pasif)

NFC Terbuka (Aktif)

Mode operasi NFC terbuka (aktif) ini memiliki prinsip kerja 2 buah perangkat yang memiliki kemampuan untuk komunikasi NFC dalam hal mengirim dan menerima data. Jadi dengan mode operasi NFC terbuka ini pengguna bisa melakukan pertukaran data dengan memanfaatkan 2 perangkat NFC. Contohnya pengguna ingin melakukan pengiriman konten digital seperti foto, video, lagu, dokumen, dll pada smartphone hanya dengan menempelkan saja ke smartphone yang akan dituju. Begitu juga jika smartphone yang dituju ingin mengirimkan konten yang sama ke smartphone pengirim. Intinya NFC terbuka ini memiliki kemampuan untuk melakukan komunikasi dua arah antar perangkat NFC.

NFC Secure (Pasif)

Mode operasi NFC secure (pasif) ini memiliki prinsip kerja pada 2 perangkat yang telah dilengkapi oleh chip NFC namun hanya 1 buah perangkat saja yang bisa melakukan komunikasi untuk mengirim dan menerima data sedangkan perangkat yang satunya hanya bisa menerima saja. Contoh penggunaan NFC secure ini pada smartphone yang telah terintegrasi dengan layanan Google Wallet, kartu kredit, atau pembayaran secara virtual dimana pengguna hanya perlu mendekatkan smartphone pada perangkat pembaca tersebut.

NFC vs Bluetooth



Jika NFC dibandingkan dengan Bluetooth yang juga memiliki fungsi yang sama maka keduanya memiliki karakteristik yang berbeda. Sekilas terlihat memiliki fungsi yang sama namun masing-masing teknologi tersebut memiliki peran yang berbeda. Bluetooth yang telah hadir terlebih dahulu hingga saat ini versi yang ke-4 (Bluetooth 4.0) memiliki kemampuan transmisi data hingga 10 meter atau lebih, sedangkan NFC hanya 10 cm.

Untuk kecepatan transmisi data Bluetooth memang lebih unggul dari NFC karena Bluetooth memiliki kecepatan transmisi sebesar 2.1 Mbps sedangkan NFC hanya 424 Kbps. Namun untuk kecepatan konektivitas NFC sangat unggul karena perangkat NFC hanya perlu didekatkan saja untuk melakukan komunikasi, tidak seperti perangkat Bluetooth yang harus dikonfigurasi terlebih dahulu (Manual Pairing).

Dalam hal konsumsi daya NFC memiliki keunggulan dibanding Bluetooth karena NFC dapat beroperasi tanpa memerlukan daya pada perangkat pasif. Walaupun Bluetooth 4.0 dikatakan Bluetooth yang hemat energi namun tetap saja memerlukan konsumsi daya untuk melakukan pengoperasiannya. Ini menyebabkan NFC bisa dikatakan lebih unggul dari Bluetooth karena kecepatan dan kemudahan konektivitas antar perangkatnya. Di masa mendatang teknologi NFC yang telah tertanam pada smartphone diharapkan dapat dijadikan alat untuk bertransaksi secara cepat dan aman












Rabu, 13 November 2013

Jaringan Internet melalui Kabel Listrik

Jaringan Internet melalui Kabel Listrik atau Broadband over Power Line (BPL) 

Jauh sebelum kabel telepon tetap (fixed line), kabel listrik (power line) telah lebih dulu mengalir ke rumah-rumah dan gedung-gedung perkantoran. Namun, justru kabel telepon tetap yang terlebih dulu digunakan sebagai jalan masuk koneksi internet (last mile) ke perumahan dan perkantoran.

Padahal dengan memanfaatkan kabel listrik sebagai last mile, tentulah penetrasi internet berpita lebar (broadband) akan jauh lebih efektif dan merata. Dengan teknologi Broadband over Power Line (BPL), siapapun tinggal mencolokkan PC ke sembarang stop kontak (electrical outlet), dan secara instan dapat segera menikmati internet berkecepatan tinggi . Dengan menggabungkan prinsip-prinsip teknologi radio, wireless networking dan modem, para pengembang bisa menciptakan cara untuk mengirimkan data melalui kabel listrik ke perumahan dan perkantoran dengan kecepatan berkisar antara 500 Kbps hingga 3 Mbps (setara dengan kecepatan DSL).

Dengan sedikit modifikasi pada kabel listrik, pengembang BPL bisa bekerja sama dengan perusahaan penyedia listrik dan ISP (Internet Service Provider) untuk mewujudkan koneksi broadband kepada setiap pelanggan. Pada titik ini, usulan untuk menjadikan kabel listrik sebagai last mile menawarkan dua jenis layanan, yaitu:
-  menghubungkan perangkat-perangkat listrik didalam rumah atau kantor.
- akses BPL akan membawa koneksi broadband menggunakan kabel, dan memungkinkan perusahaan penyedia listrik untuk mengontrol sistem listrik didalam rumah atau kantor.

Transmisi data berkecepatan tinggi menggunakan kabel listrik, memunculkan potensi untuk menghubungkan semua perangkat listrik yang tercolok atau terhubung didalam rumah. Bayangkan jika perangkat-perangkat listrik dirumah anda memiliki fasilitas auto power atau timer, seperti alarm rumah, sakelar lampu, mesin pembuat kopi atau bahkan mesin cuci bisa berkomunikasi satu sama lain melalui sebuah koneksi internet berkecepatan tinggi. Pagi hari akan terlihat benar-benar berbeda.

Transmisi data berkecepatan tinggi menggunakan kabel listrik, memunculkan potensi untuk menghubungkan semua perangkat listrik yang tercolok atau terhubung didalam rumah. Bayangkan jika perangkat-perangkat listrik dirumah anda memiliki fasilitas auto power atau timer, seperti alarm rumah, sakelar lampu, mesin pembuat kopi atau bahkan mesin cuci bisa berkomunikasi satu sama lain melalui sebuah koneksi internet berkecepatan tinggi. Pagi hari akan terlihat benar-benar berbeda.


Metode Lawas

Biasanya, ISP-ISP besar menyediakan jalur serat optik dari perusahaan telekomunikasi untuk membawa data dari dan ke internet, atau mungkin ke media lain (telepon, DSL atau TV kabel) kerumah anda. Gagasan untuk menggunakan kabel listrik AC (alternating current, arus bolak-balik) untuk mentransfer data sendiri bukanlah hal baru. Dengan membundel energi radio-frequency (RF) pada jalur yang sama dengan arus listrik, data dapat ditransmisikan tanpa perlu menggunakan jalur data terpisah. Hal ini bisa terjadi karena arus listrik dan getaran RF memiliki frekuensi yang berbeda. Keduanya tidak saling menginterferensi.

Perusahaan penyedia listrik telah menggunakan teknologi ini selama bertahun-tahun untuk memonitor kinerja sistem tenaga listrik, dikenal dengan SCADA. Saat ini bahkan telah ada solusi jaringan yang mentransfer data menggunakan kabel listrik untuk perumahan dan perkantoran.

Para pengembang teknologi BPL bekerja sama dengan perusahaan penyediaan listrik di AS tengah bekerja untuk mewujudkan BPL ini. Terdapat beberapa pendekatan yang berbeda untuk mengatasi rintangan yang muncul ketika mentransmisi data melalui kabel listrik.

Menghindari Interferensi

Seperti perusahaan telekomunikasi, perusahaan penyedia listrik juga memiliki kabel yang terbentang di seluruh dunia. Perbedaannya, perusahaan listrik memiliki jaringan kabel listrik yang menjangkau lebih banyak tempat ketimbang serat optik yang dimiliki perusahaan telekomunikasi. Kenyataan ini jelas menjadikan kabel listrik sebagai kendaraan yang paling berpotensi untuk menyediakan koneksi internet ke tempat-tempat yang belum terjangkau oleh kabel serat optik.

Kabel merupakan salah satu komponen dari jaringan yang dimiliki pleh perusahaan penyedia listrik. Selain kabel, jaringan listrik menggunakan generator, stasiun kecil atau gardu, transformer atau trafo dan perangkat penyambung lainnya untuk membawa listrik dari pembangkit listrik menuju rumah atau kantor.

Ketika listrik meninggalkan pembangkit, dia bergerak menuju gardu, baru kemudian disitribusikan ke kabel-kabel transmisi bertegangan tinggi. Ketika digunakan untuk mentransmisi koneksi broadband, kabel bertegangan tinggi inilah yang menjadi penghalang pertama. Listrik yang mengalir pada kabel transmisi ini dapat bertegangan tinggi sekitar 150 kV atau bahkan bertegangan ekstra tinggi diatas 500 kV. Besarnya tegangan ini sangat tidak cocok untuk mentransmisi data.

Seperti telah dijelaskan diatas, arus listrik dan RF menggunakan frekuensi yang berbeda. Agar data dapat ditransmisikan secara jernih dari satu titik ke titik lainnya, maka dibutuhkan jalur yang mendukung spektrum radio untuk bergetar tanpa terinterferensi oleh sumber lain. Ratusan ribu volt listrik tersebut tidak bergetar di frekuensi yang tetap. Arus listrik dalam jumlah tersebut melibas semua spektrum, dan bila bergerak di spektrum yang digunkan RF, dapat dipastikan sinyal transmisi data akan drop atau bahkan hancur berantakan.

BPL mem-bypass masalah ini dengan menghindari penggunaan bersama kabel bertegangan tinggi. Sistem ini menurunkan tegangan data menjadi 7200 volt, atau sama dengan tegangan listrik yang dialirkan pada kebel bertegangan menengah.